Keterpurukan Indonesia dan Propaganda Ekonomi Jokowi

Menjelang akhir kepemimpinan Joko Widodo sebagai Presiden Indonesia periode 2014 – 2019, ketimpangan demi ketimpangan dirasakan oleh masyarakat Indonesia kian mencoreng citra pemerintahan Joko Widodo selama ini, termasuk janji-janji kampanye Jokowi yang tidak ditepati (telah saya bahas pada tulisan saya sebelumnya), keterpurukan indonesia dirasakan Masyarakat mulai kalangan bawah hingga menengah keatas.

Seperti halnya ketidakstabilan ekonomi di indonesia membuat rakyat marjinal harus mengais iba dari orang lain bahkan bantuan yang selama ini dirasakan jauh berbeda pada era pemerintahan SBY selama 2 Periode, ditambah lagi rupiah yang kian hari kian merosot justru masyarakatlah yang menjadi korban.

Pasalnya import pangan yang tak kunjung berhenti memaksa masyarakat membeli dengan harga yg tinggi namun di lain sisi hasil pertanian lokal memiliki daya jual yang rendah kepada tengkulak karena kelebihan stok khususnya beras (sumber).

Dinamika per-politikan di indonesia kembali dipertontonkan pemerintah kepada masyarakat, sehingga terkesan ingin memutar balikkan fakta bahwa rezim ini sudah bekerja maksimal, namun jika dilihat secara seksama ini sebagai suatu ketakutan, dimana pemerintah sekarang takut singgasananya  digantikan oleh orang yang berani membela kepentingan orang banyak diluar kepentingan pribadi.

Bisa dilihat ketika ada ketimpangan yang terjadi dan dirasakan langsung oleh masyarakat, Pemerintah dengan bangga menafikkan hal tersebut dengan alasan bahwa itu adalah hoax, kemudian kembali bertanya “rakyat yang mana yang sengsara? rakyat merasakan kesejahteraan di era Jokowi” kalimat itu seakan dijadikan kalimat propaganda di kalangan masyarakat hingga pemerintah dengan bangga mengumumkan prestasi pembangunan yang terselesaikan di era Jokowi tapi sesungguhnya dibangun 70% di era SBY (sumber).

Sangat miris melihat para elit pendukung rezim Jokowi yang terus menutup mata terhadap ketimpangan yang semakin melebar, rakyat kecil seakan tidak lagi punya harapan untuk menyuarakan keluh-kesah dan pendapatnya karena takut dicekal oleh pendukung anarkis pemerintah yang akhir-akhir ini kerap melakukan persekusi, main hakim sendiri namun dilindungi oleh pihak kepolisian.

Propaganda ekonomi di era Jokowi pun terus bermunculan, rupiah mencapai Rp 15.000 namun dikatakan “itu adalah efek perang dagang luar negeri!” yah, kami paham ada perang dagang, yg menjadi pertanyaan kenapa indonesia yang kekayaan alamnya luar biasa tidak bisa melawan atau setidaknya bertahan dari perang dagang? apa ini salah rakyat lagi? import beras yang tidak diperlukan (sumber) apa rakyat yang memerlukan itu? import BMW, Mercedes, Ferrary apa itu keinginan rakyat? bukan, itu adalah keinginan para elit yang bermain di negeri ini.

Selanjutnya dikatakan oleh pemerintah bahwa utang kita tidak banyak, utang itu masih wajar, utang untuk pembangunan akan terbayar dan lain-lain, ketika orang awam mendengarnya memang langsung percaya namun hal ini telah dikaji mendalam bahwa utang kita mencapai 7000 triliun, membuat Jokowi terus mengobral surat berharga milik negara dan tidak menutup kemungkinan akan ada penjualan BUMN selanjutnya (sumber).

Dan jika itu terjadi maka indonesia hampir mustahil dapat membelinya kembali kecuali dipimpin oleh orang yang benar benar paham dan tidak takut mengambil keputusan demi kesejahteraan umat.

Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Close
Close