Ini Alasan Prabowo Lebih Unggul dari Jokowi

Berbicara tentang capres 2019 di tahun politik sepertinya seru jika kembali membandingkan sepak terjang kedua kandidat capres dan cawapres RI tahun 2019 mendatang, bulan ini memasuki bulan kedua masa kampanye yang tentunya masyarakat sudah mengenal para kandidat yang akan bertarung nanti utamanya Jokowi dan Prabowo.

Tingkat elektabilitas kandidat tentunya tidak hanya dinilai dari popularitas kandidat tersebut seperti hasil survei yang terkesan “dipesan” kebanyakan salah satu pertanyaannya “apakah anda mengenal Joko Widodo?” yap, pertanyaan ini tentu saja dapat menjadi acuan tingkat elektabilitas Jokowi.

Namun kalangan masyarakat baik yang berada di perkotaan dan di perkampungan tentunya sudah banyak yang menyadari bahwa hasil survei itu bisa saja dipesan, bisa saja sengaja dibuatkan pertanyaan yang mengarahkan responden menjawab sesuai keinginan lembaga survei “yang dipesan tersebut”.

Saya tidak menuding salah satu lembaga survei yah, sebagai contoh pada pilkada DKI Jakarta terpilihnya Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta ternyata berbanding terbalik dengan hasil survei yang dikeluarkan oleh kebanyakan lembaga survei, sedangkan diketahui hasil survei dari beberapa media mainstream bisa dikatakan sangat berpengaruh terhadap keputusan pemilih.

Ok selesai kita membahas lembaga survei, kita bahas sepak terjang para kandidat, dimulai dari kandidat petahana Jokowi, beberapa deklarasi yang digelar oleh para pendukung capres nomor urut 01 ini tidak seramai deklarasi pendukung Prabowo Subianto, bahkan terakhir beberapa video beredar para projo beralih menyatakan dukungannya ke Prabowo sebab selama kepemimpinan Jokowi tidak dirasakan adanya kemakmuran malah mereka merasakan kesusahan, berbanding terbalik dengan nawacita yang dijanjikan oleh Jokowi tahun 2014 lalu.

Beberapa pengamat politik mengatakan bahwa rezim ini sedang panik dan berupaya keras menghentikan pergerakan elektabilitas Jokowi yang kian menurun, berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah pada masa kampanye, diantaranya rencana membuat kebijakan untuk anggaran kelurahan yang tentu saja dana itu tidak pernah ada pada APBN.

Kemudian pembebasan tarif jembatan tol suramadu pada hari Sabtu, 27 Oktober 2018 tentu terkesan dilakukan untuk menarik simpati masyarakat Jawa Timur mejelang pilpres 2019, bukan suudzon tapi tentu saja hal ini akan mengundang opini publik mengenai “pencitraan” Jokowi, belum lagi aksi-aksi “brutal” yang dilakukan para pendukungnya yang terkesan ingin mengadu domba dan memecah belah umat seperti kasus pembakaran bendera tauhid yang memicu amukan jutaan massa terutama di pulau Jawa.

Belum lagi beberapa kasus korupsi yang akhir akhir ini dilakukan oleh kader PDIP bahkan sebagai tim pemenangan Jokowi-Ma’ruf serta argumen-argumen tak masuk akal yang dikeluarkan timnya seperti harga cabai bulan september 2018 yang turun hingga 15.000 (Sumber) sedangkan dilansir dari detik.com harga cabai memang turun tapi masih menginjak Rp.30.000, hal seperti ini juga menjadi indikasi berkurangnya dukungan karena juru bicara tim kampanye yang nyeleneh.

Tidak sama dengan Prabowo Subianto yang mendulang suara di berbagai sektor contohnya di bidang kesehatan secara rutin Prabowo terus mengirim tim dokter keliling ke seluruh pelosok, walaupun tidak bertujuan untuk kampanye karena tim ini sudah bergerak jauh sebelum masa kampanye dan tidak membawa embel embel dukungan capres hanya membawa nama Prabowo sebagai tokoh yang mengabdikan diri di sektor kesehatan, tapi tentu saja hal ini berpengaruh besar terhadap para pemilih.

Belum lagi dukungan dari para anggota organisasi yang dipimpinnya, saya juga pernah menulis tentang ini, sahabat bisa lihat disini dan gerakan mereka masif, disini bisa kita nilai bahwa selain dukungan tetap Prabowo, masyarakat kalangan bawah pun akan senantiasa memberikan dukungannya melalui gerakan gerakan masif baik kampanye maupun relawan relawan Prabowo yang berada di pelosok.

Sebenarnya saya tidak mau membahas panjang lebar terkait keunggulan pemilih muslim yang besar ke Prabowo karena pembaca tentu dapat melihat sendiri berita akan gerakan gerakan relawan muslim di seluruh Indonesia baik melalui media sosial maupun aktivitas di lapangan.

Penulis berharap pembaca tidak hanya menerima informasi begitu saja dari penulis tapi silahkan mencari sendiri kebenarannya, tentu kita dapat menilai mana yang kampanye terkesan dipaksakan dan mana yang lebih diterima oleh masyarakat.

Facebook Comments

Komentar

Related Articles

Close
Close