Tutur Kata Menunjukkan Kualitas Diri

Menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2019 mendatang, hingga hari ini memasuki tahun politik yang memanas, soalnya banyak masyarakat yang merasakan ketidaknyamanan akibat kegaduhan dan memberikan contoh yang kurang baik untuk menjadikan pilpres tahun semakin sejuk, karena melihat situasi saat ini hanya melakukan perang kata-kata yang seharusnya tidak pantas diucapkan oleh seorang pemimpin.

Pertama kali dimulai perang kata ketika Presdien Jokowi atau Calon Presiden (Capres) nomor urut 01 pidato kepada relawannya “tapi kalau diajak berantem juga berani”, berawal dari kata-kata itulah banyaknya perdebatan di dunia maya hingga menuai pro kontra dikalangan nitizen.

Yang tak kalah heboh lagi ketika diucapkan oleh seorang kepala negera dengan menyebutkan “Sontoloyo” hingga menajdi viral di dunia maya dan dunia nyata sehingga banyak yang menjadikan sebuah video pendek atau puisi tentang “Sontoloyo”, yang entah di tujukan kepada siapa? atau apakah ditujukan oleh lawan politik/oposisi?

Jokowi juga seakan tidak melihat pengalaman dengan tutur kata yang di ucapkan “Sontoloyo” muncul lagi “Gendorowo” entah setelah ini apakah ada lagi kata-kata yang dilontarkan untuk menakut-nakuti masyarakat.

Jika melihat itu semua apakah pantas kepala negara menyebutkan kata-kata yang dianggap kasar oleh sebagaian orang, apalagi Indonesia dikenal dengan ramah, sopan dan santun.

Prabowo juga tidak ketinggalan meramaikan jagat dunia maya setelah mengucapkan “Tampang Boyolali”, sehingga banyak mendapatkan penolakkan di Boyolali sampai Bupati Boyolali mengajak rakyatnya untuk demo, tapi yang menarik adalah ketika Prabowo dengan guyonannya dengan “Tampang Boyolali”.

Seolah-olah ini di politisasi oleh kelompok sebelah sebelum melihat konteks dengan guyonan “Tampang Boyolali”, dan media massa pun ikut terbawa harus untuk memviralkan, sedangkan banyak hal yang terjadi tidak dipublikasikan ke media, apakah isu Tampang Boyolali lebih menarik bagi mereka atau isu nasional seperti ribuan guru honorer yang demontrasi di depan istana.

Bukan hanya Capres dari nomor urut 01 serta 02, melainkan Wakil Calon Presiden (Cawapres) nomor urut 01 juga ikut serta dalam keramaian dengan menggunakan kata-kata “Buta dan Tuli” seolah pihak-pihak yang tidak mengakui prestasi jokowi disamakan dengan orang difabel, tidak elo jika tutur kata yang diucapan oleh soerang kiyai.

Jadi kita melihat bahwa tutur kata seseorang akan menunjukkan kualitasnya, maka dari itu jika mendengar tutur kata dari seorang Presiden serta kiyai menunjukkan kualitas yang rendah, sementara Prabowo bertutur kata karena melihat ketimpangan dan kesenjangan yang terjadi di masyarakat.

Jadi initnya berdebat dengan berbagai argumentasi yang rasional boleh, berbeda pandangan dan pendapat dalam berpolitik juga sudah biasa, mari bergembira dalam pesta demokrasi dan menjaga agar semua masyarakat bisa merasa nyaman dan teduh untuk mengikuti pilpres kali ini.

Salam Anak Perbatasan.

Facebook Comments

Komentar

Related Articles

Close
Close